Tradisiku dikala hujan…

Desember 16, 2009

Biarkan tangisanku luluh bersama hujan,
air mataku tergenang dalam air,
membasahi kakimu,
menjadi doa dalam langkahmu,
dan bila terik telah tiba, tangisku kan jadi sejuk di hatimu

Siang hari dan hujan.
Hujannya rintik. Hujan yang seperti itu milikku. Segelas coklat di tanganku sudah dingin. Namun di sela hujan, khayalanku masih menggeliat dalam hangat suasana hati. Diam bersandar di kursi dekat jendela. Angin sepoi berbaur percikan rintik hujan sesekali berhembus melewati sela tirai, hinggap sebagai sekumpulan titik kristal kecil yang mengembun, bertebaran di helai2 rambutku. Ada kedamaian yang Ku rasakan setiap kali hujan datang.

Tradisi.
Setiap kali hujan turun, Aku selalu menyempatkan diri untuk menikmatinya, sekedar untuk mengenang masa lalu. Dan kali ini hampir satu jam. Ada kenangan manis terbayang di hujan ini.

Bagiku, ruang dan waktu tak memiliki bentuk yang selaras seperti garis lurus. Bentuknya tak beraturan. Ada retak dan celah sana sini. Dimana relativitas menjelmakan dirinya dalam bentuk rindu, menggulirkan ingatan dari celah DeJavu. Aku membiarkan saja retak itu. Buat apa dicegah? Toh dia akan menghukumi mereka yang tak mampu bertahan. Dia tak mau menjadi salah satunya, Aku biarkan sang waktu bermain. Dan permainan itu kadangkala manis, seperti coklat hangat dikala hujan.

Ah, segelas coklat hangat ditanganku hampir habis. Tegukan terakhir. Sambil menghabiskannya, Aku teringat satu momen di masa kecilku bersama My Lovely Grandma “Yaji”.

Tenggorokaku tercekat, Menahan Tangis…
coklat itu terasa Asin…

Aku Merindukanmu Yaji..semga Engkau Berada dSyurga-NYA..Aminnn…

-Saa-

Happy B’Day Saa!!!

September 14, 2009

Demikian aku memberi ucapan selamat kepada diriku sendiri. Ya, hari ini usiaku telah bertambah. Dan banyak kebetulan yang terjadi pada hari ulang tahunku kali ini. Kebetulan yang membawa satu pesan yang sama; agar aku melihat kembali ke belakang, meninjau seluruh perjalan hidup yang telah kutempuh.

Aku ingin kembali menemukan alasan keberadaanku. Aku pernah limbung dan hilang arah. Aku ingin kembali mengenal diriku, karena aku pernah merasa hilang dan tak mampu maknai hadirku. Begitu banyak hal yang aku tak mengerti. Ya, aku tertegun dan melihat ke belakang…bagaimana aku mesti melihat dan menyikapi segala peristiwa yang pernah kualami selama ini?

Kebetulan juga ulang tahunku ini jatuh tepat pada bulan suci ramadhan, pada tiga hari dari sepuluh hari terakhirnya. Ini adalah bulan yang teramat sakral dan mulia. Bulan yang merajai bulan-bulan lainnya. Bulan yang setiap detik di dalamnya akan menggema di keabadaian. Bulan di mana ALLAH akan melipat gandakan pahala atas semua amal yang kita lakukan. Bulan dimana ibadah puasa diljalankan. Bulan di mana satu malam di dalamnya lebih bernilai daripada 1000 bulan. Pada malam itu, tanda-tanda ALLAH diturunkan ke bumi…Cahaya langit yang esotorik bersetubuh dengan kepekatan bumi yang fana. Pada malam itu, berjuta malaikat turun memadati bumi.

Malaikat tercipta dari cahaya dan mereka telah mengalami proses evolusi yang sempurna. Tujuan mereka diturunkan ke bumi adalah agar manusia sadar akan keterbelakangannya, kefanaannya sebagai makhluk, untuk kemudian menjalani proses evolusi itu. Maka, malaikat diturunkan ke bumi adalah untuk menghadirkan cahaya yang menerangi intelek manusia, membimbing proses evolusi, menerangi manusia pada setiap anak tangga pendakian diri sampai ke dalam tahap paripurna.

Kedatangan para malaikat ini sangat mempercepat kemajuan ras manusia. Beberapa individu bahkan mampu mencapai tahap peleburan jiwa (soul-infusion), di mana malaikat dan cahaya malaikat melebur dengan cahaya jiwa manusia yang sedang berkembang. Individu-individu yang maju ini menjadi pemimpin-pemimpin dari kelompok-kelompok manusia dalam bidang-bidang yang berbeda menurut berkas sinar atau tipe mereka.

Ya, kedua hal itu merupakan peristiwa penting yang teramat bermakna bagiku, yang membuat hari ulang tahun ini menjadi sangat berbeda. Meski tanpa peristiwa2 itu, hari lahir selalu merupakan hari yang teramat penting bagiku. Karena pada setiap ulang tahun, seketika aku seperti tersentak. Ketika usiaku menjadi genap dan bertambah, dia sesungguhnya merupakan perlambang. Simbol dari hidup yang telah kutempuh sedemikian jauh.

Dan malam ini, pada malam ke 23 di bulan suci ini, dan saat usikau telah bertambah…semua perjalanan hidupku sejauh ini seakan terputar kembali seperti sebuah sinema. Masa-masa kecilku yang bahagia dan sedih. Masa-masa remajaku yang aneh,lucu. Masa-masa yang berat dan penuh tragedi. Juga masa-masa penuh tawa. Hari-hari punya siang. Hari-hari punya malam. Hari-hari kekalahan. Hari-hari kebangkitan. Semua peristiwa itu berputar kembali muncul seprti slide film yang melintas di hadapanku. Peristiwa-peristiwa yang membawaku kepada hari ini. Berputar perlahan dalam setiap detilnya membuatku terjaga di sepanjang malamku ini…..

Hmm….kuhirup nafas dalam-dalam…dan kuhembuskan perlahan….

Ya, aku masih hidup hingga hari ini. Itulah hal pertama yang muncul dalam pikiranku. Aku masih hidup, dan aku sungguh bersyukur untuk itu. Aku masih hidup, dan itulah mengapa aku mampu menuliskan renungan ini, saat ini. Aku masih hidup, dan itulah mengapa pada malam ini aku bisa menapaki kembali semua jejak masa laluku. Melihat semua peristiwa yang membuatku tiba pada hari ini, membandingkan hari ini dan hari kemarin, dan aku tiba pada satu kesimpulan: Sang Hidup memberkatiku di sepanjang perjalananku.

Dan aku tertegun membaca baris-baris tulisan ini:

Kearifan abadi mengajarkan bahwa Keberadaan dalam diri manusialah yang berpikir. Keberadaan ini adalah cahaya yang ditempatlan dalam atmosfer mental yang lebih tinggi. Keberadaan ini mencoba menjangkau atom-atom substansial mental, emosional, dan fisik; membanjiri mereka dengan Cahaya Keberadaan itu sendiri; mengkordinasi, melebur, dan memancar sebagai energy yang memberikan pencerahan, pengangkatan dan penyembuhan.

Pada diri manusia biasa, Cahaya ini hanya merupakan suatu kedipan cahaya yang tak mampu menembus semua lapisan alam pikiran (mind) untuk menjangkau otak. Dalam kesempatan yang langka, yaitu pada saat-saat krisis, cahaya itu mungkin merengkuh turun dan memeberi manusia suatu bimbingan dan inspirasi singkat yang sangat luar biasa. Pada sosok manusia yang telah maju, cahaya ini secara perlahan menembus ke dalam substansi utuh mind dan karena ia mampu menembus, maka kesadaran manusia mampu berkembang.

Kesadaran mansuia adalah bidang yang tercerahi dalam alam pikiran (mind) di mana cahaya atau intelek dari Keberadaan menyorotkan cahaya. Ketika kesadaran mulai berkembang, maka secara bertahap mampu mengasimilasi dan memantulkan cahaya cahaya serta berubah menjadi cahaya. Atom-atom mind pada mulanya redup, namun ketika mereka mulai senistif terhadap Cahaya Keberadaan, maka mereka menjadi atom-atom radioaktif dalam proses mental.

Proses pencerahan ini berlangsung melalui jerih payah kita untuk berpikir secara benar, konsentrasi, meditasi dan menjalani hidup selaras dengan ritme Keberadaan dari dalam, hingga cahaya atau intelek jiwa manusia dibangunkan dari tidurnya dan dilepaskan menuju kapasitas penuh untuk melebur dengan intelek Sang Jiwa, kemudian menggantikan kedudukannya.

Sang Keberadaan dalam dirim kita adalah Solar Angel. Itulah sang Pemikir (the Thinker) yang berada dalam diri kita.

Solar Angel menyatukan diri, dan tidak menghamburkan kekuatannya, namun tetap dalam keadaan meditasi, berkomunikasi dengan pancarannya. Maka, meditasi merupakan suatu sarana yang digunakan untuk memperkuat pengaruh sang Keberadaan terhadap kepribadian dan membuatnya peka terhadap kearifan yang memancar dari sang Keberadaan itu.

Ketika aku melihat semua peristiwa dan semua yang terjadi dalam hidupku: aku mendapati saat-saat dimana aku menemukan cahaya, juga saat-saat di mana aku tidak mampu melihat cahaya. Aku bersyukur atas saat-saat terbaik manakala cahaya menerangiku, yang membuatku mampu hidup dalam aspirasi tertinggi. Namun aku tak kan menyesali saat ketika aku hilang cahaya, ketika aku melakukan begitu banyak kebodohan. Ya, aku tak kan menyesalinya. Aku akan belajar darinya.

Dan aku ingin mengakhiri refleksiku ini dengan SENYUMAN aku lepas masa laluku yang kian memudar. Proses pendakian diri mesti terus dilanjutkan hingga aku mampu temukan…dan menyerap Cahaya Nya, setia dalam terang Cahaya itu dan memancarkannya kembali dengan lebih terang……

13 September 2009
Salam,

^Saa^

Tidak terasa, sekarang kita berada di hari ke dua puluh dari bulan Sya’ban 1430 H. tinggal sepuluh hari lagi kita akan berjumpa dengan bulan Ramadhan, biidznillah…

“Ya Allah, berkahi kami di bulan Sya’ban ini, juga bulan Rajab yang lalu, dan panjangkan umur kami untuk berjumpa dengan bulan suci-Mu.” Amin

Pada bulan Sya’ban ini hendaknya kita melakukan persiapan di antaranya: Persiapan maknawiyah atau ruhani, dengan membiasakan diri menggiatkan ibadah-ibadah mahdlah, ritual, seperti shuam, qiyamullail, tilawah Al-Qur’an, sedekah, dan yang lainnya. Persiapan fikriyah atau pengetahuan tentang ibadah-ibadah Ramadhan. Persiapan Maaliyah atau materi, guna meningkatkan ibadah-ibadah sosial di bulan Ramadhan nanti.

Disunnahkan untuk memperbanyak shaum (puasa) pada bulan Sya’ban, karena Rasulullah saw. dahulu selalu melakukannya. Dalam kitab As-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim) terdapat hadits ‘Aisyah ra., dia berkata:“Aku belum pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menyempurnakan shaum selama satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku belum pernah melihat beliau memperbanyak shaum dalam satu bulan kecuali pada bulan Sya’ban.”

sebentar lagi kita akan menghadapi bulan yang disucikan, bulan yang dimuliakan, bulan Ramadhan. Bulan cerminan kedamaian, persaudaraan, kesetaraan, solidaritas dan kebaikan.

Sya’ban semakin merayap, Ramadhan kian dekat.

“Ya Allah panjangkan umur kami sehingga berjumpa Ramadhan.” Allahumma aamiin.