Dalam hidup ada kehidupan.
Kita harus menghidupkan kehidupan ini agar kita benar-benar hidup di
dalam hidup kita, tidak sekedar hidup-hidupan. Setelah kita benar-
benar hidup, mengerti hidup, mengapa kita hidup, dan untuk apa kita
hidup, baru kita dapat membantu orang lain untuk menghidupkan
kehidupan mereka sehingga mereka benar-benar hidup di dalam
kehidupan mereka
Hidup…
Juni 2, 2008 pada 22:24 (Renungan...)
maaf ku untuk mu
Juni 2, 2008 pada 22:21 (Aku..)
cukup sekian lama aku merasakan derita ini
hingga akhirnya
relung hati mulai terbuka
untuk memaafkan segala kesalah mu
kesalahan yang telah membuat hati ini
sakit …
kecewa … dan
terluka …
mungkin kau tak pernah merasakan apa yang aku rasakan
mungkin kau tak pernah tau bahwa apa yang kau lakukan
telah membuat ku takut … ragu …
akan cinta dan kesetiaan seseorang (PRIA)
dan …
mungkin kau juga tak pernah mengerti
betapa sakit nya hati ini saat ku tau
kau telah mempermainkan ku
- 5 Maret 08, 03.00-
UJIAN KEBAHAGIAAN
Juni 2, 2008 pada 22:18 (Renungan...)
Seorang pemuda yang selalu resah dan gelisah menemui seorang bijak dan bertanya. “Berapa lamakah waktu yang saya butuhkan untuk memperoleh kebahagian?” orang bijak itu memandang si anak muda kemudian menjawab,” Kira-kira 10 tahun.”
Mendengar hal itu anak muda tadi terkejut.” Begitu lama,?” tanyanya tak percaya. “Tidak,” kata si orang bijak, “Saya keliru. Enkau membutuhkan waktu 20 tahun.” Anak muda itu bertambah bingung. “ Mengapa Guru lipatkan dua? Tanyanya keheranan. Orang bijak kemudian berkata, dalam hal ini mungkin engkau membutuhkan 30 tahun.”
Apa yang terlintas dalam fikiran Anda ketika membaca cerita di atas? Tahukah anda mengapa semakin banyak orang muda itu bertanya, semakin lama pula waktu yang diperlukan.
Lantas,bagaimana cara kita mendapatkan kebahagiaan? Sebagaimana yang telah banyak disampaikan, kebahagiaan hanya akan dicapai kalau kita mau melakukan pencarian ke dalam. Namun, itu semua tidak dapat Anda peroleh dengan cuma2. Anda harus mau membayar harganya.
Agar lebih mudah kita gunakan analogi sebuah toko. Nama toko itu adalah “Toko Kebahagiaan.” Di sana tidak ada barang yang bernama “kebahagiaan” karena “kebahagiaan” itu sendiri tidak dijual. Namun, toko ini menjual semua barang yang merupakan unsur2 pembangun kebahagiaan, antara lain: kesabaran, keikhlasan, rasa syukur, kasih sayang, kejujuran, kepasrahan, dan rela memaafkan. Inilah “barang2” yang mencapai kebahagiaan.
Tetapi, berbeda dari toko biasa, toko ini tidak menjual produk jadi. Yang dijual di sini adalah benih. Jadi, kalau Anda tertarik untuk membeli “kesabaran” Anda hanya akan mendapatkan “benih kesabaran.” Karena itu, segera setelah Anda pulang ke rumah Anda harus berusaha keras untuk menumbuhkan benih tersebut sampai ia menghasilkan buah kesabaran.
Setiap benih yang Anda beli di toko tersebut mengandung sejumlah persoalan yang harus Anda pecahkan. Hanya bila Anda mampu memecahkan persoalan tersebut, Anda akan menuai buahnya. Benih yang dijual di toko itu juga bermacam-macam tingkatannya. “kesabaran tingkat 1,” misalnya, berarti menghadapi kemacetan lalu lintas, atau pengemudi bus yang ugala-ugalan.” Kesabaran tingkat 2,” berarti menghadapi atasan yang sewenang-wenang, atau kawan yang suka memfitnah.” Kesabaran tingkat 3”. Misalnya, adalah menghadapi anak Anda yang terkena autisme.
Menu yang lain misalnya bersyukur.’ “Bersyukur tingkat 1” adalah bersyukur dikala senang, sementara “Bersyukur tingkat 2” adalah bersyukur dikala susah.
“Kejujuran tingkat 1,” misalnya, kejujuran dalam kondisi biasa, sementara “Kejujuran tingkat 2” adalah kejujuran dalam kondisi terancam. Inilah sebagian produk yang dapat dibeli di “Toko Kebahagiaan.”
Setiap produk yang dijual di toko tersebut berbeda-beda harganya sesuai dengan kualitas karakter yang ditimbulkannya. Yang termahal tenyata adalah “Kesabaran” karena kesabaran ini merupakan bahan baku dari segala macam produk yang dijual di sana.
Seorang filsuf Thomas Paine pernah mengatakan, “Apa yang kita peroleh dengan terlalu mudah pasti kurang kita hargai. Hanya harga yang mahallah yang memberi nilai kepada segalanya. Tuhan tahu bagaimana memasang harga yang tepat pada barang-barangnya.”
Dengan cara pandang seperti kita akan menghadapi masalah secara berbeda. Kita akan bersahabat dengan masalah. Kitapun akan menyambut setiap masalah yang ada dengan penuh kegembiraan, karena dalam setiap masalah senantiasa terkandung “Obat dan Vitamin” yang sangat kita butuhkan.
Dengan demikian Anda akan “berterima kasih” kepada orang-orang yang telah menyusahkan Anda karena mereka memang “diutus“ untuk membantu Anda. Pengemudi yang ugal-ugalan, tetangga yang jahat, atasan yang sewenang-wenang adalah peluang untuk membentuk kesabaran. Penghasilan yang pas-pasan adalah untuk menumbuhkan rasa syukur. Suasana yang ribut dan gaduh adalah peluang untuk menumbuhkan konsentrasi. Orang-orang yang tak tahu berterima kasih adalah peluang untuk menumbuhkan perasaan kasih tanpa syarat. Orang-orang yang menyakiti Anda adalah peluang untuk menumbuhkan kualitas rela memaafkan.
Marilah kita renungkan ungkapan berikut ini: “Aku memohon kekuatan, dan Tuhan memberiku kesulitan-kesulitan untuk membuatku kuat. Aku memohon kebijaksanaan, dan Tuhan memberiku masalah untuk diselesaikan. Aku memohon kemakmuran, dan Tuhan memberiku tubuh dan otak untuk bekerja. Aku memohon keberanian, dan Tuhan memberiku berbagai bahaya untuk Aku atasi. Aku memohon cinta, dan Tuhan memberiku orang-orang yang bermasalah untuk aku tolong. Aku memohon berkah dan Tuhan memberiku berbagai kesempatan.
Aku tidak memperoleh apapun yang aku inginkan, tetapi aku mendapatkan apapun yang aku butuhkan.”
Mudah-mudahan sepenggal cerita bijak ini dapat kita renungi dan dapat kita ambil hikmahnya untuk kehidupan kita sehari-hari.Allah Swt Maha Mengetahui segala sesuatu. Dan yang diberikan-Nya adalah pasti yang terbaik untuk kita. Semoga kita selalu mendapatkan kasih sayang-Nya.
Wassalamualaikum……