Mencinta dan dicintai adalah fitrah. Bahkan cinta itu sendiri adalah cinta.Setiap tarikan nafas, mengandung kalori cinta. Cinta itu bervitamin yang akan menambah stamina tubuh dan jiwa. Terjadinya beberapa macam penyakit, terlebih penyakit hati, karena kurangnya unsur cinta.Perhatikanlah, pohon-pohon yang layu atau jiwa-jiwa yang kering karena kurangnya siraman cinta.

Bercinta adalah sebuah seni dalam kehidupan. Level apa pun dalam hidup ini, akan sangat membutuhkan cinta. Sekerah apa pun jiwa seseorang, pasti ada cinta yang terpendam dalam lubuk hatinya. Tanpa cinta, kehidupan tak pernah ada.

Terjadinya pemanasan iklim global yang mengepung bumi kita, karena menipisnya lapisan ozon cinta. Masing-masing negara ’sangat angkuh’, enggan mengekspresikan cintanya.

Cinta harus menjadi lapisan dan inti dari semua gerakan. Cinta adalah ruh. Cinta adalah sungai hati dan perasaan yang akan bermuara pada samudra keagungan bersama Allah, puncak tertinggi Mahacinta.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abi Ummamah:
“Barang siapa mencintai, membenci, memberi dan mencegah karena Allah, sungguh telah sempurna imannya”.

Inilah muara cinta, ‘keimanan’. Iman yang berdasarkan cinta akan menembus sekat-sekat buruk kemanusiaan dan akan menyingkap tabir-tabir hikmah ketuhanan.

“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk hatinya”.
Bahkan, cinta menjadi prasyarat untuk masuk ke surga.
“Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk surga, hingga kalian beriman; kalian tidak akan beriman (dengan sempurna) hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukan kepada sesuatu yang jika kalian lakukan, kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam (kedamaian) di antara kalian”.